HOME
Home » Karya Ilmiah » Contoh Karya Tulis Ilmiah Pendidikan

Contoh Karya Tulis Ilmiah Pendidikan

Posted at June 10th, 2013 | Categorised in Karya Ilmiah

Setelah membahas Pengertian Karya Tulis Ilmiah, Cara Membuat Karya Tulis Ilmiah dan Sekarang adalah Contoh Karya Tulis Ilmiah

Karya Tulis Ilmiah ini adalah salah satu KTI yang di ikutkan pada Lomba Karya Tulis Ilmiah yang di adakan oleh Universitas Negeri Makassar

Contoh Karya Tulis Ilmiah ini bisa anda download secara gratis

contoh karya tulis ilmiah

contoh karya tulis ilmiah

Contoh Karya Tulis Ilmiah ini berjudul: Pembentukan Karakter Kepemimpinan Melalui Kegiatan Keagamaan OSIS SMAN 2 Sengkang

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Sikap kepemimpinan adalah suatu sikap pribadi yang mampu mengembangkan potensi diri, mampu menempatkan diri serta mampu berfikir terbuka dan positif terhadap diri dan lingkungan. Adapun sikap kepemimpinan ini tidak hadir dengan sendirinya melainkan dibangun dan dibentuk oleh pilar-pilar pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Khatib Pahlawan Kayo (2005: 7) menyebutkan bahwa kepemimpinan dalam pengertian umum adalah suatu proses ketika seorang memimpin (directs), membimbing (guides), mempengaruhi (influences) atau mengontrol (controls) pikiran, perasaan, atau tingkah laku orang lain. Masalah kepemimpinan agaknya merupakan pokok pangkal lahirnya berbagai problematika dalam masyarakat. Hal ini menyangkut kualitas sang pemimpin dalam menangani dan mengayomi masyarakatnya. Secara pasti, di Indonesia pemimpin yang berkualitas dalam pemahaman yang tepat amatlah sedikit, tarutama pada kalangan generasi muda. Era globalisasi menjadi tantangan bagi generasi muda dalam pembentukan karakter diri.Maraknya pergaulan bebas, narkoba, budaya hedonisme, budaya konsumerisme, dan tawuran dikalangan remaja menjadikan semakin rusaknya moral, intelektual dan fisik mereka. Berbagai keluhan dan kerisauan kemudian muncul dari orang tua dan masyarakat mengenai kehidupan anak-anak mereka dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang akibat maraknya budaya pop, glamor, santai serta krisis moral yang melanda masyarakat modern. Generasi muda merupakan pemangku estafet kepemimpinan suatu negara. Kejayaan negara yang akan datang tergantung dari bagaimana generasi mudanya saat ini. Peranan generasi muda sangatlah besar. Oleh karena itu, perlu adanya pembinaan yang baik agar dapat terbentuk karakter generasi muda yang baik pula.

Masa remaja berbeda dengan masa anak-anak. Pada masa remaja, mereka berusaha melepaskan diri dari orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya (Haditono, 2006: 279).Selain itu, mereka lebih tertutup dan tidak lagi mudah terpengaruh oleh siapapun. Sekalipun terpengaruh, pengaruh itu tidak diterimanya begitu saja, melainkan dipilih dan diseleksi. Mereka juga sudah mulai bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya (Sujanto, 1982: 188). Siswa SMA termasuk dalam masa perkembangan yang disebut masa remaja atau pubertas. Masa remaja adalah masa yang khusus, penuh gejolak karena pada pertumbuhan fisik terjadi ketidakseimbangan. Hal ini akan mempengaruhi perkembangan berfikir, bahasa, emosi, dan sosial anak (Sunarto dkk, 2002: 75). Pada masa ini individu mengalami berbagai perubahan baik fisik maupun psikis. Kepemimpinan siswa merupakan salah satu upaya untuk memberikan pemahaman serta membangun karakter kepemimpinan siswa agar menjadi siswa teladan, bertanggung jawab sehingga tidak tejerumus dengan pergaulan bebas yang dapat merusak moral dan intelektual mereka. Karakter kepemimpinan pada siswa dapat terbentuk dengan keikutsertaan mereka dalam kegiatan-kegiatan terkait kepemimpinan seperti Latihan Dasar kepemimpinan, Outbond, dan Organisasi siswa (Osis, Pramuka, dan lain-lain). Kegiatan keagamaan di SMA Negeri 2 Sengkang merupakan salah satu kegiatan dalam kepengurusan OSIS. Sebagai organisasi sekolah, OSIS mempunyai berbagai strategi dalam pembentukan karakter kepemimpinan pada siswa. Strategi tesebut dirancang dengan memperhatikan beberapa hal yang terkait dengan faktor internal (faktor yang berasal dari dalam organisasi), dan salah satunya dengan kegiatan keagamaan. Meski dalam membentuk karakter kepemimpinan siswa melalui kegiatan keagamaan menemui beberapa hambatan dan tantangan. Hal tersebut dapat menjadi penghalang dalam pencapaian tujuan.Oleh karena itu hambatan dan tantangan perlu mendapat perhatian dalam penyusunan strategi tersebut.Selain itu, dukungan sekolah juga mempunyai peran yang besar dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan.

Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik membahas tentang beberapa permasalahan terkait dengan kegiatan keagamaan OSIS SMAN 2 Sengkang dalam pembentukan karakter kepemimpinan pada siswa. Oleh karena itu penulis mengangkat judul “Pembentukan Karakter Kepemimpinan Melalui Kegiatan Keagamaan OSIS SMAN 2 Sengkang.” B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam karya tulis ilmiah ini adalah: 1. Bagaimana kegiatan keagamaan OSIS SMAN 2 Sengkang dalam pembentukan karakter kepemimpinan pada siswa? 2. Apa hambatan dan tantangan kegiatan keagamaan OSIS SMAN 2 Sengkang dalam pembentukan karakter ? C. Tujuan Karya Tulis Sejalan dengan rumusan masalah di atas, karya tulis ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui: 1. Kegiatan keagamaan OSIS SMAN 2 Sengkang dalam pembentukan karakter kepemimpinan pada siswa. 2. Hambatan dan tantangan kegiatan keagamaan OSIS SMAN 2 Sengkang dalam pembentukan karakter. D. Kegunaan Karya Tulis Karya tulis ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun secara praktis. Secara teoretis, karya tulis ini berguna untuk menambah wawasan, terutama tentang pembentukan karakter kepemimpinan melalui kegiatan keagamaan OSIS SMAN 2 SENGKANG. Secara praktis karya tulis ini diharapkan bermanfaat bagi: 1. Penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan khususnya tentang karakter kepemimpinan. 2. Pembaca, sebagai media informasi tentang pembentukan karakter kepemimpinan melalui kegiatan keagamaan OSIS SMAN 2 SENGKANG secara teoretis maupun secara praktis.

C. Prosedur Karya Tulis Karya tulis ini disusun dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Melalui metode ini penulis akan menguraikan permasalahan yang dibahas secara jelas dan konprehensif. Data dalam karya tulis ini dikumpulkan dengan menggunakan metode reading dan penelitian langsung.

BAB II PEMBAHASAN

A. Karakter Kepemimpinan Karakter Kepemimpinan merupakan hasil karya pendidikan, pelatihan, talentscouting dan pembiasaan, yang dipadukan dengan sinergi pembelajaran sepanjang hayat, diperkuat oleh daya nalar dan kecerdasaan akal budi serta kecerdasan spiritual, seraya menyelaraskan dengan irama kehidupan yang sedang berkembang dan berubah cepat tak menentu (Kadir, 2001: 5). Karakter menurut kamus ilmiah populer Internasional (Budiono, 2005: 288) adalah watak, tabiat, pembawaan, kebiasaan.Secara istilah karakterdiartikan sebagai keseluruhan daripada perasaan-perasaan dan hasrat-hasrat yang telah berarah, seperti yang diorganisir oleh kehendak manusia (Sardjonoprijo, 1982: 90). Karakter seseorang berkembang berdasarkan potensi yang dibawa sejak lahir atau yang dikenal sebagai karakter dasar yang bersifat biologis.Akultualisasi karakter dalam bentuk perilaku sebagai hasil perpaduan antara karakter biologis dan hasil hubungan atau interaksi dengan lingkungannya. Elemen-elemen dasar dari karakter, menurut Kerschensteiner dalam (Kartono, 2005: 84), yaitu daya kemauan, yaitu: daya aktivitas yang ulet awet, akal yang jelas, ceria atau terang: daya berfikir yang logis, perasaan halus: kemudahan dan banyaknya keterharuan jiwa mencakup baik rasa-halus yang bersifat indrawi maupun bersifat jiwani, dan aufwuhlbarkeit: kedalaman dan lamanya keharuan jiwa. Unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikiran dan kebiasaan. Hal ini karena didalam pikiran terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidupnya. Program ini kemudian membentuk sistem kepercayaan yang akhirnya dapat membentuk pola berpikir yang bisa mempengaruhi perilakunya. Hasilnya, perilaku tersebut membawa ketenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya, jika program tersebut tidak sesuai dengan prinsip- prinsip hukum universal, maka perilakunya membawa kerusakan dan

menghasilkan penderitaan. Oleh karena itu, pikiran harus mendapatkan perhatian serius Kershensteiner dalam (Kartono, 2005: 83) membahas masalah pembentukan karakter, yaitu segi: sifat-sifat yang bisa berubah dan aspek-aspek yang bisa dididik. Kershensteiner membedakan dua fungsi psikis yang saling “berhadapan”, yaitu: Pertama, karakter biologis, yang mencakup fungsi-fungsi psikis lebih rendah, yaitu: dorongan-dorongan, nafsu dan insting-insting (pembawaan alami atau hewani). Bagian karakter ini tidak bisa dibentuk. Dengan kata lain, karakter yang biologis itu tidak bisa dibentuk dan tidak bisa dididik. Kedua, karakter yang intelingibel, yang mencakup fungsi-fungsi lebih tinggi: daya kemauan, kejelasan dari akal, perasaan halus dan Aufwuhlbarkeit (daya menggemburkan, melepaskan). Fungsi-fungsi psikis ini juga berupa unsur- unsur bawaan sejak lahir (Zubaedi. 2011: 86). Namun fungsi-fungsi tersebut bisa dibentuk atau dididik.Jadi pada segi ini bagian karakter tersebut bisa dididik.dengan kata lain: bagian tersebut menjadi alat-bantu bagi para pendidik untuk membentuk segi-segi etis dari karakter. Maka, karakter yang intelingibel ini bisa dididik. Adapun kepemimpinan adalah perihal memimpin, cara memimpin sedangkan menurut istilah dapat diartikan sebagai suatu proses ketika seorang memimpin (directs), membimbing (guides), memengaruhi (influences)atau mengontrol (controls) pikiran, perasaan, atau tingkah laku orang lain. Pengertian kepemimpinan merupakan suatu deskripsi tentang kegiatan seseorang yang dinilai sebagai pemimpin, dan terdapat aspek-aspek (1) posisi sebagai pusat; (2) peranannya sebagai pemberi arah; (3) sebagai penggerak atau stimulator dari aktivitas atau kegiatan. Pengertian kepemimpinan lebih dititikberatkan pada segi fungsi dari pada segi struktur. Berkaitan dengan hal tersebut, maka pengertian kepemimpinan dapat diberikan makna (1) kepemimpinan merupakan ciri-ciri aktivitas seseorang yang dapat mempengaruhi pengikutnya; dan (2) kepemimpinan merupakan suatu instrumen untuk dapat melancarkan suatu kegiatan dalam rangka pencapaian tujuan

(Walgito, 2003: 102). Salah satu teori yang dapat membentuk karakter kepemimpinan, yaitu teori sosial. Teori sosial menyatakan bahwa pemimpin harus disiapkan, dididik, dan dibentuk, tidak dilahirkan begitu saja. Setiap orang bisa menjadi pemimpin, melalui usaha penyiapan dan pendidikan, serta didorong oleh kemauan sendiri. Menurut Kartini Kartono (2005: 348), Bentuk kepemimpinan khas yang dikehendaki ada pada kaum muda adalah kepemimpinan yang berorientasi pada kekaryaan. Kepemimpinan karya ini diharapkan mempunyai ciri-ciri tersendiri. Di samping memiliki ciri-ciri kepemimpinan Indonesia yang umum, juga memiliki kemahiran sosial (social skill). Maka ciri-ciri kepemimpinan karya dan keterampilan sosial tersebut adalah sebagai berikut: 1. Bertakwa kepada Tuhan Yang M aha Esa 2. Setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 3. Berkepribadian dan berbudi pekerti luhur, bersifat kesatria 4. Kuat mental dan moralnya, serta berkecerdasan tinggi 5. Tangguh, berdisiplin dan kreatif.
B. Kegiatan Keagamaan
Kegiatan keagamaan di SMAN 2 Sengkang, merupakan kegiatan berbasis keagamaan. Kegiatan keagamaan biasanya dikemas dalam bentuk ekstrakurikuler (ekskul). Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan tambahan diluar struktur program dilaksanakan diluar jam pelajaran biasa agar memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan siswa. Kegiatan keagamaanberbeda tiap sekolah disesuaikan dengan prosesnya. Namun, secara umum Kegiatan keagamaanmenurut Koesmarwanti dan Nugroho Widiyantoro dalam (Fidianti, 2009: 26) dibagi menjadi 2 kegiatan yaitu kegiatan dakwah „ammah dan kegiatan dakwah khashah. Dakwah ammah dalam dakwah sekolah adalah proses penyebaran fikrah Islamiyah dalam rangka menarik simpati, menumbuhkan cinta dan meraih dukungan dari medan dakwah sekolah. Sedangakan dakwah khashah dalam

dakwah sekolah adalah proses pembinaan dalam rangka pembentukan kader-kader dakwah di lingkungan medan dakwah sekolah. Dakwah ini diselenggarakan secara formal dan non-formal. Menurut Afdiah Fidianti (2009: 21), Kegiatan keagamaan sering disebut dengan istilah “ROHIS”. Namun ROHIS dalam pemaknaan umum, secara kelembagaan di SMAN 2 Sengkang, tidak dilaksanakan. Kegiatan keagamaan yang dilaksanakan, di bawah kordinasi OSIS, dan dalam pantauan dan arahan guru terutama guru agama. Adapun kegiatan keagamaan oleh OSIS SMAN 2 Sengkang yang berperan dalam pembentukan karakter kepemimpinan siswa dalam catatan penulis, yaitu; Maulid Nabi saw. Dalam kegiatan ini, dikemas dalam dua bentuk, yaitu diadakan di masjid, dan dalam bentuk semi seminar. Pemberian pengetahuan tentang kepemimpinan terfokus pada ceramah yang berintikan keteladanan atas kepemimpinan Rasulullah saw. Isra Miraj, Pesantren Kilat, Dzikir, Shalat Berjamaah. Hampir sama dengan kegiatan Maulid, kegiatan Isra, Mi‟raj, Pesantren Kilat, Dzikir, Shalat Berjamaah, diadakan di masjid sekolah, namun hanya dalam satu bentuk pelaksanaan seperti pelaksanaan Isra Mi‟raj pada umumnya. Karakter kepemimpinan terbentuk dari keterlibatan siswa sebagai panitia pelaksana. Khusus untuk kegiatan shalat berjamaah, karakter kepemimpinan juga terbentuk dari pola dan strategi peran menjadi imam shalat, yang dilakukan secara bergilir. Peringatan Tahun Baru IslamLomba Qasidah Modern, MTQ, Lomba Model Islami, Lomba Adzan, dan Lomba Kaligrafi. Kegiatan keagamaan ini dilaksanakan dalam waktu dan menyambut even tertentu, seperti hari besar, maupun perayaan hari Nasional. Keterlibatan siswa sebagai panitia pelaksana, kebersamaan dalam kelompok, manajemen pembentukan organisasi berupa kelompok kecil, adalah bentuk desain pembentukan karakter kepemimpinan.

C. Kegiatan Keagamaan dalam Pembentukan KarakterKepemimpinan Siswa Karakter kepemimpinan dari kegiatan keagamaan berarti bahwa setiap pelaksanaan kegiatan keagamaan,harus bisa menarik anggotanya agar anggotanya dapat melaksanakan tugas yang diberikan, serta mengarahkan anggotanya untuk bekerja sesuai dengan tujuan yang telah disepakati bersama. Selain itu, seorang pemimpin juga harus bisa mendorong anggotanya, artinya seorang pemimpin harus dapat memberi kan pengaruh yang baik dalam mengatur jalannya kegiatan. Berdasarkan hasil observasi penulis, karakter kepemimpinan yang ingin dibentuk dalam kegiatan keagamaan OSIS SMAN 2 Sengkang, adalah karakter kepemimpinan yang tercermin dalam karakter kepemimpinan dari Rasulullah saw. Karakter kepemimpinan tersebut jika dilihat dari teori kepemimpinan masa kini.Bahwasanya sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah: Energi dan jasmani kuat, Semangat untuk mencapai tujuan, ramah tamah, antusias, jujur, memiliki kecakapan (Rangkuti. 2008: 23). Karakter kepemimpinan bukan hanya dari bakat saja tetapi proses belajar, pengalaman maupun pengaruh lingkungan pun ikut mendukung dalam pembentukan karater ini. Hal ini dapat dijelaskan dengan teori kepemimpinan yaitu teori ekologis yang menyatakan bahwa seseorang akan sukses menjadi pemimpin bila sejak lahirnya memiliki bakat-bakat kepemimpinan kemudian bakat tersebut dikembangkan melalui pengalaman dan usaha pendidikan sesuai tuntutan lingkungannya (Kartono, 2006: 33). Karakter kepemimpinan siswa sangat diperlukan untuk mengembangkan potensi mereka, selain itu karakter kepemimpinan juga dapat menjadi bekal mereka dalam menghadapi efek negatif globalisasi.Dalam kegiatan keagamaan, pembentukan karakter kepemimpinan sangat di perlukan karena tanpa kepemimpinan, suatu organisasi tidak bisa mencapai tujuan akhir. Karakter kepemimpinan yang dibentuk merupakan hal yang biasa dilakukan dalam organisasi. Namun, yang membedakan kegiatan OSIS yang lain dengan kegiatan keagamaan, yaitu materi yang dikemas dengan kegiatan berkesan, seperti maulid dan Isra‟ Mi‟raj, dan maulid Nabi saw. Kegiatan

keagaaman yang sifatnya rutin, yaitu pesantren kilat, dzikir, shalat berjamaah, dan kegiatan keagamaan yang bernuansa lomba, yaitu peringatan tahun baru islamlomba qasidah modern, MTQ, lomba model islami, lomba adzan, dan lomba kaligrafi. Kegiatan keagamaan dalam OSIS SMAN 2 Sengkang,dimulai dari pembentukan sebuah kepanitian kecil agar pelaksanaan kegiatan tersebut dapat terorganisir dengan baik. Setiap panitia otomatis mendapatkan pelatihan kepemimpinan, dari keterlibatan mereka menjadi panitia. Tujuannya selain mereka belajar berkoordinasi, dan manajemen organisasi, juga melatih manejerial waktu. Tahapan dari kerja panitia dalam acara kegiatan keagamaan adalah menyusun tema dan konsep kegiatan, selanjutnya tahap pembahasan perseksi bidang, setelah tahap tersebut diadakanlah rapat besar yang melibatkan kepanitiaan anggota dan pengurus. Secara otomatis, keterlibatan mereka melatih berdemokrasi dengan kultur kepanitiaan kegiatan keagamaan. Konsep kepemimpinan dari pelaksanaan setiap kegiatan keagamaan berarti bahwa seorang pemimpin harus bisa menarik anggotanya agar anggotanya dapat melaksanakan tugas yang diberikan, serta mengarahkan anggotanya untuk bekerja sesuai dengan visi yang telah disepakati bersama. Selain itu, seorang pemimpin juga harus bisa mendorong anggotanya, artinya seorang pemimpin harus dapat memberikan pengaruh yang baik dalam mengatur jalannya organisasi Hal ini seperti apa yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara dengan azashingarsa (didepan),tulada (teladan, contoh), yang berarti seorang pemimpin di tengah-tengah masyarakat harus mampu memberi contoh, memberi teladan yang baik kepada para bawahan/pengikut. Hing madya (di tengah-tengah), mangunkarsa (membangun semangat), yang berarti seorang pemimpin harus senantiasa ada di tengah-tengah para pengikutnya dan mampumembangkitkan semangat para bawahan. Tut wuri (dari belakang), handayani (memberikan dorongan, memberikan pengaruh), yang berarti seorang pemimpin dari belakang ia harus mampu memberikan dorongan, memberikan pengaruh yang baik kepada para bawahan.

Konsep kepemimpinan tersebut diharapkan dapat dipahami dan dimiliki oleh seluruh panitia dan diharapkan dari siswa yang terlibat. Selain kepemimpinan secara umum, setiap kegiatan keagamaan memberikan pembekalan tentang ajaran Islam, sehingga diharapkan karakter kepemimpinan yang terbentuk adalah karakter kepemimpinan yang sesuai dengan ajaran agama Islam. D. Hambatan, Tantangan dan Dukungan Sekolah terhadap Kegiatan Keagamaan Pembentukan karakter kepemimpinan merupakan tujuan jangka panjang dari setiap kegiatan keagamaan.Namun, dalam upaya mencapai tujuan tersebut ditemui beberapa hambatan dan tantangan.Beberapa hambatan tersebut, yaitu: 1. Kurangnya minat siswa untuk berorganisasi (fokus pada pendidikan formal) Tugas seorang siswa adalah belajar di sekolah.Hal itu yang menjadi mindset umum para siswa.Namun, sebenarnya belajar disekolah bukan hanya pendidikan formal di kelas, ikut aktif dalam kegiatan organisasi merupakan salah satu pembelajaran yang efektif dalam pembentukan karakter diri dan hal tersebut dirasa penting untuk dipahami oleh para siswa.Untuk meluruskan mindset tersebut perlu adanya beberapa penjelasan lebih mendalam kepada mereka. Upaya memberikan pemahaman tersebut dilakukan sejak awal siswa masuk (ketika mengikuti orientasi) organisasi-organisasi diberikan kesempatan untuk mengenalkan organisasinya kepada siswa baru. Begitupula dengan kegiatan keagamaan, hal ini merupakan kesempatan untuk mulai mengajak siswa bergabung menjadi panitia. Selain itu, melalui keteladanan dan kegiatan-kegiatan, keagamaam berupaya untuk lebih mendekatkan diri kepada siswa. 2. Administrasi yang kurang baik Jadwal kegiatan yang padat serta adanya kesibukan pribadi kadang melupakan apa yang harus diinventarisir. Hal ini terjadi pada panitia yang terlibat dalam kegiatan keagamaa, dalam hal pelaksanaan kegiatan, meski tergolong sukses, namun pada saat setelah kegiatan.Laporan dalam bentuk tulisan sering menjadi kendala.Hal tersebut mengakibatkan sulitnya untuk mencari data terkait setiap kegiatan yang dapat dipelajari untuk kepengurusan selanjutnya. Kurangnya perhatian dalam administrasi dapat menjadi hambatan dalam setiap

kegiatan keagamaa untuk melakukan evaluasi. Seharusnya data-data sebelum pelaksanaan, pada saat pelaksanaan, dan sesudah pelaksanaan dapat diinventarisir dengan baik sehingga pada saat laporan pertanggungjawaban ada bukti tertulisnya. 3. Waktu yang terbatas Masa kepengurusan organisasi OSIS SMAN 2 Sengkang hanya 1 tahun.Sedangkan, kegiatan-kgiatan yang diagendakan sangat padat, termasuk kegiatan keagamaan.Hal ini yang sering menimbulkan tumpang tindih kegiatan (kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan berdekatan waktunya).Namun, hal ini dapat diatasi dengan adanya pembagian kepanitiaan yang berbeda orang.Tujuannya, agar kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik. Selain kegiatan yang padat, kepentingan individu yang berbeda-beda dapat menyebabkan kurangnya perhatian terhadap kegiatan keagamaan. Namun dengan adanya pembagian waktu dan tugas, pelaksanaan kegiatan pun tetap dapat terlaksana dengan baik. Adapun mengenai tantangan,dalam sebuah kegiatan merupakan hal yang biasa terjadi. Setiap kepanitian kegiatan keagamaan mempunyai cara tersendiri dalam menyikapi adanya hambatan dan tantangan. Beberapa tantangan umumnya bersifat teknis, yaitu: 1. Perlu adanya izin dari orang tua Untuk mendapatkan kepercayaan dari orang tua tidaklah mudah apalagi kegiatan yang dilaksanakan sampai sore hari.Namun, OSIS sebagai induk pelaksana kegiatan keagamaan berusaha untuk memperoleh kepercayaan tersebut dengan menjelaskan tentang kegiatan yang dilakukan. Jika ada orang tua yang masih ragu dengan pelaksanaan kegiatan, maka panitian membuat surat izin kepada orang tua disetiap kegiatan. 2. Perubahan zaman menjadi yang berpengaruh dengan teknis kegiatan keagamaan. Perubahan zaman menjadi salah satu tantangan bagi kegiatan siswa.Zaman sekarang yang disebut sebagai era globalisasi ditandai dengan berbagai kemajuan teknologi.Adanya kemajuan tersebut menjadikan mudahnya

akses ke berbagai media.Era globalisasi dengan dampak negatif sangat tidak diharapkan, perlu adanya kewaspadaan dan perhatian penuh terhadap dampak negatifnya. Pengaruh yang ditimbulkan dalam kegiatan keagamaan yaitu pada pemahaman yang dangkal yang berpengaruh pada komitmen keikutsertaan. Terlaksananya kegiatan keagamaantak lepas dari adanya dukungan dari pihak sekolah.Setiap agenda yang diadakan harus mendapatkan izin dari pihak sekolah.Oleh karena itu, setiap kegiatan keagamaanselalu dikordinasikan dan di bawah bimbingan dari guru, terutama guru agama. Beberapa bentuk dukungan sekolah terhadap kegiatan keagamaan terutama dalam pembentukan karakter kepemimpinan pada siswa, yaitu: 1. Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana merupakan bentuk dukungan sekolah untuk terlaksananya kegiatan keagamaan.Sarana dan prasarana yang ada didalam sekolah dapat digunakan untuk kegiatan dengan izin terlebih dahulu.Sarana dan prasarana di SMA Negeri 2 Sengkang sangat banyak dan keadaananya pun baik.Namun, kekurangan dari sarana dan prasarananya yaitu adanya masjid yang kurang representatif karena warga sekolah banyak namun kurang luas serta penyediaan sarana dan prasarana dimasjid sangat sedikit. 2. Pencitraan Pencitraan baik yang diakui sekolah merupakan bentuk dukungan yang besar terhadap kelangsungan kegiatan keagamaan, terutama yang dilaksanakan pada sore dan malam hari.Dengan adanya pencitraan tersebut dapat menarik minat siswa untuk mengikuti setiap kegiatan keagamaan.Namun, pencitraan baik tidak timbul begitu saja. Peran anggota OSIS dan panitia yang menjaga kepercayaan sekolah menyebabkan pencitraan tersebut diakui oleh sekolah 3. Sumbangsih saran dan nasehat Setiap organisasi sekolah di SMA Negeri 2 Sengkang mempunyai Pembina tersendiri.Adanya Pembina merupakan bentuk dukungan sekolah terhadap setiap kegiatan termasuk kegiatan keagamaan, peran pembina sangat penting untuk membina, mengarahkan dan mengawasi. Dengan adanya pembina, panitian pelaksana kegiatan dapat melakukan sharing, minta nasehat dan saran

setiap ingin melaksanakan kegiatan. 4. Perizinan kegiatan Penentuan boleh dan tidaknya kegiatan berlangsung tak lepas dari kebijakan sekolah dalam memberikan izin.Oleh karena itu kebijakan yang mendukung terselenggaranya kegiatan keagamaan merupakan salah satu bentuk dukungan sekolah terhadap panitia pelaksana. 5. Finansial Finansial merupakan hal yang sangat penting untuk terlaksananya kegiatan. Setiap organisasi disekolah mendapat bantuan dana yang digunakan untuk keperluan kegiatan. Tanpa adanya bantuan dana, pelaksanaan kegiatan akan terhambat. Namun, dana yang disediakan sekolah sangat tidak mencukupi untuk seluruh kegiatan keagamaan, oleh karena itu, panitia pelaksana mempunyai cara dalam mengatasi kekurangan dana tersebut. Caranya yaitu dengan mengadakan usaha mandiri yang dikelola oleh divisi dana usaha serta dana yang diperoleh dari sponsorship kegiatan.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan dari temuan-temuan data di lapangan dan analisis data yang penulis lakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pembentukan karakter kepemimpinan melalui kegiatan keagamaan adalah sebagai berikut: Maulid, Isra Miraj, Pesantren Kilat, Dzikir, Shalat Berjamaah, Peringatan Tahun Baru IslamLomba Qasidah Modern, MTQ, Lomba Model Islami, Lomba Adzan, dan Kaligrafi. Pelibatan anggota dalam panitia kegiatan, merutinkan kegiatan Mentoring untuk penguatan dan pembentukan kepribadian Islami siswa, dan merutinkan kegiatan keagamaan untuk pembentukan kepribadian Islami siswa. Hambatan dan tantangan dalam setiap kegiatan keagamaan terhadap pembentukan karakter kepemimpinan pada siswa adalah sebagai berikut: kurangnya minat siswa untuk berorganisasi, administrasi yang kurang baik, waktu yang terbatas, urangnya kepercayaan orang tua, dan perubahan zaman.Pihak sekolah sangat mendukung terhadap kegiatan keagamaan dalam pembentukan karakter kepemimpinan siswa berupa: sarana dan prasarana, pencitraan, sumbangsih saran dan nasehat, perizinan kegiatan, dan finansial.
B. Saran-Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas penulis dapat memberikan saran-saran sebagai berikut:
1. Hendaknya pihak sekolah lebih terlibat dalam melakukan bimbingan kepada pengurus dalam setiap even kegiatan keagamaan, sehingga dapat direncanakan lebih menarik dan bervariasi. Selain itu perlu adanya indikator penentu tercapainya tujuan melalui beberapa strategi yang telah disusun. Sehingga akan terlihat prosentase tujuan yang telah tercapai.

2. Hendaknya peserta dan panitai kegiatan keagamaan saling memotivasi untuk aktif dan memberikan informasi-informasi untuk orang tua agar mendukung kegiatan. Selain itu, Administrasi juga perlu diperhatikan kepanitian kegiatan keagamaan, agar setiap kegiatan yang diadakan dapat dievaluasi secara tertulis serta dapat menjadi pembelajaran kepengurusan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Budiono.2005. Kamus Ilmiah Populer Internasional. Surabaya: Alumni
Haditono, Siti Rahayu. 2006. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya.Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Kadir, Abdul Rahman. 2012. Makalah: Karakter Kepemimpinan Nasional. (Seminar kepemudaan KNPI Kab. Wajo)
Kartono, Kartini. 2005. Teori Kepribadian. Bandung: CV Mandar Maju
………….. 2006. Pemimpin dan Kepemimpinan: Apakah KepemimpinanAbnormal itu?. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Kayo, Khatib Pahlawan.2005. Kepemimpinan Islam dan Dakwah. Jakarta: Amzah
Rangkuti, Freddy. 2008. Analisis SWOT: Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum
Sardjonoprijo, Petrus. 1982. Psikologi Kepribadian. Jakarta: CV Rajawali Sujanto, Agus. 1982. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Aksara Baru
Sunarto, Ny. B. Agung Hartono. 2002. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Rineka Cipta
Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial:Suatu Pengantar. Yogyakarta: CV Andi Offset
Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana

Itulah Contoh Karya Tulis Ilmiah ini

 

Facebook Comments

No comment for Contoh Karya Tulis Ilmiah Pendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post to Contoh Karya Tulis Ilmiah Pendidikan

Tech in Asia Jakarta 2015

Posted at November 27, 2015

Tech in Asia adalah Komunitas Online pelaku startup di Asia. Tahun ini kembali Tech in Asia (TIA) mengadakan event rutin yaitu International Conference di... Read More

olimpiade biologi

Tips Menghadapi Olimpiade Biologi SMA

Posted at January 16, 2014

Tips Menghadapi Olimpiade Biologi SMA – olimpiade adalah sebuah ajang perlombaan di mana para peserta beradu prestasi. Maka untuk kali ini saya kan coba... Read More

Soal CPNS Online Terbaru dan Lengkap

Posted at October 27, 2013

Pengangguran di Indonesia Makin hari makin bertambah dan Lowongan Pekerjaan makin hari makin berkurang akibatnya LOKER atau lowongan Pekerjaan menjadi Eksklusif dan bahkan sering... Read More

Contoh Kegunaan dan Prosedur Makalah

Contoh Kegunaan dan Prosedur Makalah

Posted at June 11, 2013

Makalah adalah karya ilmiah yang tak lepas dari kehidupan para pelajar dan pembelajar, makalah sering di berikan oleh guru di sekolah maupun dosen di... Read More

Contoh Rumusan Masalah dan Tujuan Makalah

Contoh Rumusan Masalah dan Tujuan Makalah

Posted at June 11, 2013

Sebelum Menyusun Makalah kita harus terlebih dahulu menentukan Rumusan Masalah yang akan di bahas dan teliti pada makalah itu dan juga merupakan rangkain dari... Read More