HOME
Home » Karya Ilmiah » Dunia di Seberang Jendela

Dunia di Seberang Jendela

Posted at March 13th, 2012 | Categorised in Karya Ilmiah

Bila berada lama di kota ini Aku makin suka berada di  kamar tempatku . Bening dan penuhi satu sisi dinding. Di kamar aku paling duduk menulis, berdiri pegal, dan terbaring letih. Di seberang jendela, kehidupan berlangsung dan sering menggodaku menengok ke luar.

 

Aku jadi tahu kelakuan penghuni rumah-rumah di seberang jalan dari jendela kamar,  Paling tidak lima rumah. Rumah pertama terletak di sudut jalan, paling kanan. Ukurannya lebih besar ketimbang rumah-rumah di sebelahnya. Ada petak tanaman sayur di halaman depan. Tomat, cabe, dan sawi. Selebihnya hamparan rumput dan rumpun bunga kana di beberapa pojok.

Keluarga Filipina tinggal di sana. Mereka jarang terlihat bersama. Aku cuma sekali melihat. Pada malam perayaan natal. Ramai betul di halaman rumah mereka. Banyak wajah yang tak kukenal sebelumnya. Pastilah tamu. Kerabat dan saudara yang datang untuk merayakan natal bersama. Di halaman penuh rumput, mereka meletakkan organ. Lalu ramai orang bernyanyi. Lagu-lagu natal, lagu-lagu pujian pada Tuhan.

 

Selebihnya, sepi. Miskin suara. Kecuali beberapa malam, sang suami pulang dalam keadaan mabuk. Menggedor-gedor pintu. Gaduh betul. Tapi dia mabuk. Mungkin ia kira suara yang cukup untuk membuat penghuni tiga blok terbangun kaget tak didengar orang di dalam rumahnya. Sambil menggedor kudengar dia menyeracau, kadang mirip makian. Tapi aku tak paham bahasa yang ia ucapkan. Mungkin tagalog, mungkin bisaya. Untung kadang terselip kalimat pendek berbahasa Inggris, sehingga aku tahu bahwa dia juga bilang “fuck you!”

 

Rumah kedua, tetangga si Filipina. Aku tak kenal penghuninya. Pintunya jarang terlihat terbuka. Halamannya keras. Tak ada rumput atau pohon. Yang kutahu, di sana terdapat pasangan muda. Si laki-laki, gemuk. Si perempuan kecil kurus. Tapi bukan karena perbandingan ukuran tubuh maka aku kadang menyamakan pasangan ini gentong air dan tongkat penggebuk lalat.

 

Pasangan ini seringkali bertengkar. Tidak siang. Tidak malam. Kadang hanya suara keras si lelaki yang terdengar. Kadang si perempuan sampai keluar rumah terbirit-birit dengan telpon selular yang mungkin memanggil-manggil bantuan. Si laki-laki gemuk, suaranya senyaring gentong air kosong. Kadang menggelegar. Kalau marah semua nama tuhan dia sebut. “Ya Allah! Ya Rabbi!” lalu terdengar bunyi-bunyi plak-buk-ketuplak-gedebuk! Hampir setiap pertengkaran usai, ditutup dengan suara mobil meraung melesat menjauh. Lalu senyap. Meninggalkan gunjing di bibir para pembantu rumah tangga saat berkumpul dekat gerobak tukang sayur tiap pagi.

 

Aku agak kenal dengan penghuni rumah ke tiga. Aku akan ceritakan nanti, setelah kuceritakan penghuni rumah ke empat.

 

Rumah keempat sempat dihuni sepasang suami istri. Sang suami bule. Perempuannya, suku Jawa. Nyonya rumah yang ramah. Kami sering saling sapa kalau dia sedang merawat tanaman di taman kecil depan rumahnya. Kemudian tiba-tiba, perempuan itu menghilang dari jendela kamarku. Mereka bercerai, ternyata. Si bule jadi duda.

Bila dulu ketika masih beristri, aku sering melihat si bule berpakaian olahraga dan lari pagi diiringi bocah-bocah bule bersepeda. Entah dimana rumah para bocah itu. Tapi kuduga, mereka murid si bule yang kini duda. Dia konon guru olahraga di sebuah sekolah internasional.

 

Kini pemandangan si bule berpakaian olahraga mulai jarang terlihat. Sama jarangnya dengan kulihat orang merapikan taman kecil di rumahnya yang kini tak bedanya dengan semak belukar. Kutandai ada kebiasaan baru si Bule. Tengah malam dia memutar musik rock klasik. Berisik sekali. Mungkin dia mabuk sampai tak sadar kelakuannya. Atau cuma ingin mengumumkan selera musiknya kepada warga satu komplek perumahan.

 

Akhir-akhir ini ada lagi hal menarik di rumah si Bule. Jelang malam biasanya datang tamu. Orang Indonesia. Satu dua laki-laki, jenis melambai. Lalu tiga hari yang lalu, kudengar si bule bertengkar dengan tamunya di halaman. Pukul tiga pagi waktu itu. Mereka terus baku mulut. Beberapa lampu di rumah tetangga tiba-tiba menyala, tanda terbangun. Adu mulut berlangsung seru. Aku tak menangkap bunyi azan subuh.

Mereka bertengkar pakai bahasa Inggris. Suasana seberang jendela jadi mirip tempat kursus bahasa Inggris. Entah apa yang mereka bicarakan. Berisik tapi tak jelas betul di telingaku, terutama telinga kiriku memang melemah sejak kena radang setelah kemasukan air sungai sebuah hutan di pedalaman Sumatra.

Begitulah rumah keempat. Rumah kelima paling senyap sedunia. Tak pernah kutemukan peristiwa menarik di sana. Tak pernah ada keributan. Di depan rumah itu dipasang poster besar. DIKONTRAKKAN! Ditambah sederet nomor telepon yang bisa dihubungi calon pengontrak rumah.

 

Kini kuceritakan rumah ke tiga. Pintu pagar itu dengan pintu pagar rumah tempatku menumpang berhadapan persis. Kadang ketika aku sedang di dekat pintu pagar, kebetulan pemilik rumah seberang juga sedang membuka pintu pagarnya. Kadang kami saling menyapa. Kadang tidak.

Empunya rumah, janda cantik berumur 50 tahunan. Perempuan mapan yang tinggal menikmati hidup. Badannya lumayan subur, wajahnya lembut, senyumnya ramah. Dia suka memasak, dan masakannya lumayan enak. Aku tahu karena dia suka berkirim masakan ke pemilik rumah yang tempatku menumpang. Dan aku selalu kebagian tugas menghabiskannya. Lembut dan pintar masak. Sosok ibu yang baik. Tapi hanya jika dia sedang diam tenang.

Tapi dari matanya, dia tampak seperti anak jalanan dalam lirik lagu. Selalu ramai dalam kesepian dan selalu sepi dalam keramaian. Dia paling suka mengunjungi ibu-ibu tetangga. Terutama jelang sore hingga dan pangkal malam. Mereka bercakap-cakap dengan hangat. Suaranya cukup keras untuk menembus jendelaku. Kadang percakapan mereka yang seringkali riang, diselingi keluhan. Aku pernah mendengar pemilik rumah seberang mengucapkan, “Rasanya aku mau mati saja.”

 

Kadang dia datang ke rumah tempatku menumpang. Induk semangku melayaninya bicara di teras atau di ruang tamu. Bila aku sedang turun dari kamar, kadang kami bertukar sapa sekadar bertanya kabar. Selebihnya, ketika dia pulang, tampak di seberang jendelaku. Menutup pagar dengan muka layu, lalu menghilang ke dalam rumah.

 

Jendela kamar tempatku menumpang tidak hanya selebar satu sisi. Penampangnya mirip kacamata lebar bertangkai pendek. Ada sambungan kaca selebar tiga jengkal di sisi kiri dan kanan kamar. Memungkinkan aku untuk bisa melihat sedikit kehidupan tetangga yang persis di kiri dan kanan rumah.

 

Rumah sebelah kanan, milik seorang dokter. Beberapa batang pohon bunga kamboja tumbuh di halamannya. Ada kolam kecil, kering tak berikan. Suasana rumah itu sunyi. Sesenyap bangsal kamar mayat. Kecuali bila putri dan menantu sang dokter datang berkunjung dan menginap. Suasana jadi ramai. Pasangan muda itu membawa bayi mereka, cucu kesayangan sang dokter. Suasana jadi mirip bangsal melahirkan. Ramai terdengar tawa senang sang kakek. Dan malam-malam yang senyap kadang pecah karena tangis si bayi. Benar-benar mirip rumah sakit.

 

Tetangga di sebelah kiri bekerja di perusahaan tambang besar di Papua. Dia, istrinya dan anak-anaknya jarang pulang. Paling dua kali setahun. Itu pun kalau anak-anaknya tidak minta berlibur ke Disneyland. Halamannya teduh. Macam hutan hujan tropika. Gelap lembab. Banyak pohon. Satu pohon nangka. Banyak kayuh singgah atau benalu tumbuh di dahannya. Ada pula pohon rambutan yang bila sedang musim berbuah, pohon ini menjadi kesayangan para musang liar yang masih bertahan hidup di kawasan Selatan kota ini.

 

Perawatan rumah diserahkan pada mbak Siti. Orangnya baik. Tapi jarang bicara. Sama senyapnya dia dengan rumah yang ia tunggu. Tapi satu bulan ini rumah itu sedang direnovasi. Siang-siang datang truk bawa pasir, semen, bata, kayu, dan juga membawa bising. Siang-siang suara godam menumbuk-numbuk tembok. Benar-benar mirip situasi di lubang tambang. Untung saja para tukang tidak menggunakan dinamit untuk merobohkan beton seperti yang sering dilakukan perusahaan tambang merontokkan bukit. Siang-siang suara gergaji menggesek kayu mengganggu tidur siangku. Lebih menyiksa ketimbang tidur seranjang bersama orang yang menggesek gigi saat tidur.

 

Jendela kamar tempatku menumpang di kota ini adalah paduan unik bagiku pribadi. Aku bisa membuka daunnya selebar mungkin, supaya angin dapat masuk sebanyak yang mereka bisa. Membuat nyaman, walau kamar ini terlarang untukku merokok. Tapi kehidupan di seberang jendela, kadang terlalu menarik sekaligus mengganggu. Kehidupan di seberang jendela, kadang, membuatku kehilangan kehidupan sendiri. Kecuali satu waktu. Ketika hujan.

 

Sumber : http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2012/03/10/dunia-di-seberang-jendela/
Facebook Comments

No comment for Dunia di Seberang Jendela

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post to Dunia di Seberang Jendela

Tech in Asia Jakarta 2015

Posted at November 27, 2015

Tech in Asia adalah Komunitas Online pelaku startup di Asia. Tahun ini kembali Tech in Asia (TIA) mengadakan event rutin yaitu International Conference di... Read More

olimpiade biologi

Tips Menghadapi Olimpiade Biologi SMA

Posted at January 16, 2014

Tips Menghadapi Olimpiade Biologi SMA – olimpiade adalah sebuah ajang perlombaan di mana para peserta beradu prestasi. Maka untuk kali ini saya kan coba... Read More

Soal CPNS Online Terbaru dan Lengkap

Posted at October 27, 2013

Pengangguran di Indonesia Makin hari makin bertambah dan Lowongan Pekerjaan makin hari makin berkurang akibatnya LOKER atau lowongan Pekerjaan menjadi Eksklusif dan bahkan sering... Read More

Contoh Kegunaan dan Prosedur Makalah

Contoh Kegunaan dan Prosedur Makalah

Posted at June 11, 2013

Makalah adalah karya ilmiah yang tak lepas dari kehidupan para pelajar dan pembelajar, makalah sering di berikan oleh guru di sekolah maupun dosen di... Read More

Contoh Rumusan Masalah dan Tujuan Makalah

Contoh Rumusan Masalah dan Tujuan Makalah

Posted at June 11, 2013

Sebelum Menyusun Makalah kita harus terlebih dahulu menentukan Rumusan Masalah yang akan di bahas dan teliti pada makalah itu dan juga merupakan rangkain dari... Read More