HOME
Home » Karya Ilmiah » Kearifan Pappaseng Nene Mallomo

Kearifan Pappaseng Nene Mallomo

Posted at February 28th, 2012 | Categorised in Karya Ilmiah

Nene Mallomo adalah Salah satu Tokoh Cendikiawan yang me-Legenda di Sidenreng Rappang yang telah menjadi land Mark Kerajaan Sidenreng Rappang pada Abad ke-16 Masehi.

Banyak Sumber yang mengatakan bahwa Nene’ Mallomo lahir sebelum masa pemerintahan Raja La Patiroi, yaitu pada masa Raja La Pateddungi.

Beliau meninggal Tahun 1654 M di Allakuang, dan salah satu mottonya yang terkenal dan menjadi motivasi kerja adalah “Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata”.

Jaman Duluu, setiap kerajaan memiliki cendekiawan yang merupakan pembimbing masyarakat dalam mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama.
Ada 5 orang cendekiawan yang terkenal dalam perjalanan sejarah kerajaan Bugis, yakni Kajao Lalidd o(cendekiawan kerajaan Bone), Nene’ Mallomo (cendekiawan kerajaan Sidenreng), Arung Bila(cendekiawan kerajaan Soppeng), La Megguk (cendekiawan kerajaan Luwu) dan Puang ri Maggalatung (cendekiawan kerajaan Wajo).

Para cendekiawan ini sering melaksanakan pertemuan untuk mengadakan diskusi, sambil tukar menukar pengalaman yang nantinya akan menambah wawasan seiap orang. Salah satu pertemuan yang terkenal digelar di Cenrana.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Kajao Laliddo dari Bone, Nene’ Mallomo dari Sidenreng, Puang ri Maggalatung dari Wajo, Topacaleppang dari Soppeng, Macca e dari Luwu dan Boto Lempangan dari Gowa.
Dari pertemuan tersebut, Nene’ Mallomo kemudian melahirkan buah pikirannya yang disepakati oleh para cendekiawan yang hadir. Buah pikirannya berupa sebuah prinsip yang harus dijalankan oleh aparat kerajaan dalam mewujudkan masyarakat yang taat hukum.
Prinsip tersebut dikenal dengan ungkapan “Naia Adek Temmakkeana Temmakkeappo” (hukum tidak mengenal anak cucu).

Para cendekiawan kerajaan juga berfungsi untuk menghasilkan karya yang dapat dijadikan pedoman dalam membangun kerajaan/masyarakat ke arah yang lebih baik. Pedoman tersebut lebih dikenal dengan istilah pangadereng. Menurut Muh. Salim (1984), “pangadereng meliputi segala keharusan bertingkah laku dalam kegiatan orang Bugis, meliputi keseluruhan tata tertib, pedoman hidup dan kehidupan, baik dalam kehidupan berumah tangga maupun dalam kehidupan bermasyarakat”.

Pangadereng meliputi adek (perbuatan yang memberikan keseimbangan/mappasilasa), bicara (perbuatan saling menyembuhkan/mappasisau dan perkataan yang saling menghormati), rapang (percontohan, yakni perbuatan yang menserupakan/ mappasenrupa), wari (tata cara, yakni perbuatan yang tahu membedakan/mappalaiseng).

Sedangkan Drs. Mattulada (1968) mengatakan : “pangadereng dapat diartikan sebagai keseluruhan norma-norma, meliputi bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap sesamanya manusia dan terhadap pranata sosialnya secara timbal balik dan yang menyebabkan adanya gerak (dinamis) masyarakat. Pangadereng dibangun oleh banyak unsur yang saling menguatkan. Pangadereng meliputi hal ihwal ade’ (adat), bicara, rapang (contoh), wari (tata cara) dan sara’. Semua diperteguh dalam satu rangkuman yang melatarbelakanginya,yaitu satu ikatan yang mendalam ialah siri”.

Nene Mallomo hanyalah sebuah gelar bagi seseorang, dimana dalam bahasa Bugis Sidrap, kata Mallomo berarti mudah, yang maksudnya bahwa Nene Mallomo mudah memecahkan suatu permasalahan yang timbul. Nene, Mallomo merupakan seorang laki-laki, walaupun kata nene’ menunjuk pada istilah wanita yang telah lanjut usia (tua). Dalam budaya Bugis dahulu, kata Nene digunakan untuk pria/wanita yang telah lanjut usia.

Nama asli Nene’Mallomo adalah La Pagala, namun ada juga yang mengatakan bahwa nama asli Nene’Mallomo adalah La Makkarau. Nene’ Mallomo dikenal sebagai seorang intelektual yang mempunyai kapasitas dalam hukum dan pemerintahan serta berwatak jujur dan adil kepada seluruh masyarakatnya.
Dalam konteks masalah hukum, Nene’ Mallomo mempunyai prinsip yaitu Ade Temmakkeana Temmakkeappo, yang berarti bahwa hukum tidak mengenal anak dan cucu. Hal ini menunjukkan sisi keadilan dan ketegasan dari seorang Nene’ Mallomo, yang juga merupakan salah seorang penyebar agama Islam di daerah Sidrap.

Suatu hari nene mallomo kedatangan  tamu yang sangat terhormat yaitu Arung Matoa Wajo. beliau ini bertanya kepada nene’ mallomo ;

aga muala apettu bicara ri sidenreng, nasalewangeng ana’banuammu, na’bija olok-kolo’mu,namoni ase wette muamporeng jajito”. artinya, apakah yang diputuskan di sidenreng ini sehingga rakyatmu sejahtera, ternakmu berkembang biak dan benih padimu yang jelek yang kau sebarkan juga tumbuh baik.

jawaban nene mallomo:

iyana uala appettuang bicara ri sidenreng iya naritu alempureng sibawa deceng kapangnge” .  atinya, yang saya ambil keputusan di sidenreng adalah kejujuran dan prasangka baik kepada semua orang.

beberapa tahun kemudian setelah kedatangan tamu terhormat tersebut, rakyat menjadi resah kernak ternak pada  mati, padi sawah pada rusak seluruhnya. nene’ mallomo bertafakkur dan mengambil kesimpulan siksaan dari dewata sewae (tuhan) tersebut pasti ada sebabnya. atas dasar ini nene’ mallomo memerintahkan untuk diadakan penelitian yang jujur dan tidak memihak (jangan membayangkan penelitian ini seperti pansus century yang penuh intrik

kesimpulan dari penelitian ini adalah anak dari nene’ mallomo yang juga seorang petani mengalami kesulitan sewaktu membajak sawahnya. bajak rusak sehingga tanpa pikir panjang dia mengambil kayu yang telah dipotong dan disandarkan kepohon yang lain. ini disampaikan kepada nen’ mallomo yang langsung menanyakan kepada anaknya atas kebenaran berita tersebut. sang anak mengaku terus terang.

kemudian nene’ mallomo memanggil rapat para pabbicara (pemangku adat) dan menguraikan persoalan yang timbul dan penyebabnya. kesimpulan dari nene’ mallomo adalah karena anaknya telah mengambil kayu orang lain tanpa persetujuan pemiliknya maka harus dihukum mati.

para pabbicara melalui yang tertua menyatakan pada nene’ mallomo bahwa:

lemmu manaro nyawamu pasi angkei nyawana ana’mu na aju sipoloe”. artinya sampai hatikah engkau nene’ mallomo membandingkan nyawa anakmu dengan sepotong kayu.

jawaban nene’ mallomo adalah :

“makko gatu pale taro bicarae temmakki ana’  temmakki ambo ada pura onroe”. artinya apakah demikian hukum kita, tidak melihat anak atau bapak.

atas dasar ini anaknya dihukum mati sesuai dengan prosedur. dengan demikian nene’ mallomo telah melaksanakan semua pesan/anjurannya sebagaimana disebutkan terdahulu.

setelah pelaksanaan hukuman mati tersebut rakyat menjadi sejahtera kembali karena ternak kembali berkembang dan padi menjadi baik lagi.

dengan keputusan yang berat dari nene’ mallomo, dia juga telah meletakkan dasar-dasar demokrasi pada jamannya. beliau sewaktu akan dilantik sebagai pejabat di sidrap pada waktu itu bersumpah sebagai berikut :

ooe sipabbanuakku:

angingko ri ki rau kaju

soloka na ki batang

artinya : wahai senegeriku, anda adalah angin dan saya hanyalah sayuran yang lemah.

ada kemungkinan bahwa generasi setelah nene’ mallomo mengambil hikmah dari pesan-pesan tersebut sehingga muncul ungkapan” :

“ RESOPA TEMMANGINGI NAMALOMO NALETEI PAMMASE DEWATA ”.

Simpulan Pappaseng Nene Mallomo:

*1) kejujuran :Peristiwa keadilan dimana ia menghukum mati anak kandungnya sendiri sebab /tanpa meminjam lalu memakai luku (semacam pembajak sawah) milik petani lain.
*2)kearifannya : dicetuskanya penataan masyarakat ketindak terpuji dalam aspek ade’ (adat), bicara, rapang (contoh), wari (tata cara) dan sara’.
*3)Para cendekiawan : Kajao Laliddo dari Bone, Nene’ Mallomo dari Sidenreng, Puang ri Maggalatung dari Wajo, Topacaleppang dari Soppeng, Macca e dari Luwu , Karaetta ri (dari)Cendrana dan Boto Lempangan dari Gowa
Tags :

2 Comments for Kearifan Pappaseng Nene Mallomo

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

    Related Post to Kearifan Pappaseng Nene Mallomo

    olimpiade biologi

    Tips Menghadapi Olimpiade Biologi SMA

    Posted at January 16, 2014

    Tips Menghadapi Olimpiade Biologi SMA – olimpiade adalah sebuah ajang perlombaan di mana para peserta beradu prestasi. Maka untuk kali ini saya kan coba... Read More

    soal cpns terbaru

    Soal CPNS Online Terbaru dan Lengkap

    Posted at October 27, 2013

    Pengangguran di Indonesia Makin hari makin bertambah dan Lowongan Pekerjaan makin hari makin berkurang akibatnya LOKER atau lowongan Pekerjaan menjadi Eksklusif dan bahkan sering... Read More

    Contoh Kegunaan dan Prosedur Makalah

    Contoh Kegunaan dan Prosedur Makalah

    Posted at June 11, 2013

    Makalah adalah karya ilmiah yang tak lepas dari kehidupan para pelajar dan pembelajar, makalah sering di berikan oleh guru di sekolah maupun dosen di... Read More

    Contoh Rumusan Masalah dan Tujuan Makalah

    Contoh Rumusan Masalah dan Tujuan Makalah

    Posted at June 11, 2013

    Sebelum Menyusun Makalah kita harus terlebih dahulu menentukan Rumusan Masalah yang akan di bahas dan teliti pada makalah itu dan juga merupakan rangkain dari... Read More

    makalah

    Contoh Latar Belakang Masalah Makalah

    Posted at June 11, 2013

    Dalam Penyusunan Makalah yang pertama dalam sistematisnya memberikan latar belakang sebagai landasan dari di buatnya atau di susunnya makalah tersebut,Latar Belakang Masalah Makalah terdiri... Read More