Karya Ilmiah

Ketika Pelajar Menggugat

Ketika Anak Bangsa Menggugat layanan pendidikan

Pelajar adalah seseorang yang belajar atau menimba ilmu (di sekolah) khususnya untuk generasi muda usia wajib sekolah yang telah di tentukan pemerintah.

 

Program di dunia pendidikan dari masa ke masa selalu berubah, yang katanya disesuaikan dengan perkembangan jaman. tapi tidak demikian dengan peranan orang tua siswa ketika menitipkanya anaknya ke sekolah. Yang menjadi dasar mereka ialah “kepercayaan” terhadap fasilitas pendidikan dari  sekolah. Ketika layanan pendidikan (yang era sekarang disebut 8 standar pendidikan) tidak atau belum terpenuhi maka orangtua akan berfikir dua kali untuk memasukkan anaknya ke sekolah tersebut.

 

Muncul sebuag pertanyaan klasik, “Tanggungjawab siapa yang harus memenuhi kebutuhan standar pendidikan?”. Di lain sisi ada beberapa upaya Pemerintah (Kabupaten/kota melalui Dinas Pendidikan) untuk memenuhi standar pendidikan, tapi tetap kendala yang muncul begitu kompleks mulai dari sdm sampai fasilitas infrastrukturnya.

 

Ketika pelajar menggugat

 

contohnya saja  proses pengadaan sarana prasarana pendidikan yang didanai dengan Dana Alokasi Khusus (DAK), sarat akan kepentingan mark up sepihak,  tujuan mereka ingin meraup keuntungan yang besar dari proses itu” ,begitu banyak kepala dinas bahkan Kepala Daerah yang terjerat hukum pidana karena ketidaktahuan/kurang mengerti tentang “kemauan” dari penggagas program DAK, contohya proses pengadaan buku, baik buku ajar maupun buku perpustakaan sekolah.

 

pemerintah, sebagai pengayom masyarakat sangat tidak mengerti, bagaimana nasib anak didik terkhusus yang ada di pelosok daerah untuk mengerti tentang dunia luar demi merajut masa depannya dengan angan dan cita-citanya bila tidak ada buku saja di sekolah.Pengetahuan yang mereka peroleh satu-satunya hanyalah dari tayangan televisi yang saat ini menjangkau seluruh pelosok tanah air Indonesia. Apa jadinya bila terjadi “salah tayangan” dari siaran TV , tentu hal itu akan menjadi  referensi satu-satunya untuk merekamengambil  keputusan dirinyadi masa depannya.

 

dari fenomena di tersebut, peran guru berangsur akan berubah sesuai paradigmanya, tidak lagi mengajarkan “local budaya ” tapi hanya akan mengikuti pola asuh dari masyarakat melalui media di luar sekolah, lebih ekstrim lagi bila guru akhirnya hanya akan berusaha memenuhi jam mengajarnya saja, tanpa mengajarkan “pembudayaan lokal” dengan alasan “kalah dengan tayangan TV dan tidak ada buku/sumber bacaan acuan”.

 

Maka semestinya pengadaan sarana fasilitas pendidikan terutama buku dapat dipenuhi langsung oleh pemerintah pusat tanpa harus mengorbankan generasi penerus bangsa .

Refrence

 

Tags
Show More

Andi Agus

I am Blogger Nusantara

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker