HOME
Home » Karya Ilmiah » Local Wisdom dalam Mappasikarawa Bugis

Local Wisdom dalam Mappasikarawa Bugis

Posted at March 1st, 2012 | Categorised in Karya Ilmiah

Perkawinan bagi masyarakat Wajo dipandang sebagai suatu hal yang sangat sakral, religius dan sangat dihargai, sebab perkawinan bukan saja menyangkut ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita tetapi lebih dari itu. Perkawinan merupakan pertalian hubungan kekeluargaan antara pihak pria dengan pihak wanita yang akan membentuk rukun keluarga yang lebih besar lagi. Hal ini dapat dilihat pada pernyataan berikut:

  ” Naiya appabottingeng ri tana ugi”, Sulawesi Selatan, taniyami bawang riakkattai maelo-e pabbattangtaui anak rirojengetta. Iyakia, maserro decengpiha maelo-e passeddiwi dua-e rumpun keluarga. Sarekkuwammengngi nawedding mancaji seuwa rumpun keluarga battowa. Madeceng atuwong rililona matti, mabbarakka siwolongpolong, sipakatau, sipakalebbi, sipakainge” (Palippui, Muhammad Hatta, 2007). (Perkawinan di tanah bugis Sulawesi Selatan, bukan hanya bertujuan mengawinkan anak yang kita lahirkan  akan tetapi lebih dari pada itu yakni ingin mempersatukan kedua rumpun keluaga besar. Menjadikan kehidupannnya menjadi baik dan berberkah, saling menghargai, saling asih, asuh  dan saling asah antara satu dengan yang lain.)

Salah satu fenomena yang menarik bagi masyarakat Wajo yaitu memiliki komitmen tradisional dalam melakukan kegiatan perkawinan adalah selain mereka berpegang teguh pada ajaran agama juga berpegang teguh pada pengetahuan lokal  yang dianut serta diyakini kebenarannya secara turun temurun. Salah satu pengetahuan lokal dimaksud adalah kegiatan mappasikarawa  dalam perkawinan.

Ritual Mappasikarawa

Bagi masyarakat Wajo,  pengetahuan lokal tersebut tidaklah diterima begitu saja melainkan telah teruji kebenarannya dalam berbagai  pengalaman hidup yang berulang-ulang dialami (di dengar, dilihat dan dirasakan)  baik dari diri sendiri maupun dari orang lain.  Mengacu pada berbagai pengalaman yang berulang-ulang dan menyodorkan berbagai  fakta – fakta kebenaran dari dampak kegiatan mappasikarawa tersebut sehingga tidak sedikit masyarakat Wajo sejak dahulu hingga sekarang ini tetap kukuh memegang dan memelihara  pengetahuan lokal tersebut untuk dijadikan sebagai dasar pijakan dalam melakukan kegiatan perkawinan.

            Mappasikarawa adalah sebuah proses yang tak terpisahkan dalam sebuah perkawinan dengan cara mempertemukan pengantin pria dan wanita dalam tempat tertentu yang ditindaklanjuti dengan berbagai perilaku  (gau – gaukeng khusus) oleh orang-orang tertentu dengan harapan agar pengantin tersebut kelak mendapatkan kebahagiaan, kedamaian, keselamatan dan kesejahteraan dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.

Masyarakat Wajo yang memiliki komitmen tradisional pada umumnya percaya akan adanya suatu tatanan atau aturan tetap yang mengatur segala apa yang terjadi di alam dunia yang dilakukan oleh manusia termasuk kegiatan perkawinan. Tatanan atau aturan itu bersifat stabil, selaras dan kekal.. Aturan itu merupakan tatanan budaya sebagai sumber segala kemuliaan dan kebahagiaan manusia, karena itu setiap apa saja yang dilakukan manusia harus sesuai atau selaras dalam tatanan kehidupan alam sekitarnya. Salah satunya adalah tatanan dalam perkawinan yakni kegiatan mappasikarawa.

 Hasil penelitian lapangan pada wilayah kecamatan Majauleng, Tanasitolo, Tempe dan Belawa, kabupaten Wajo, menunjukkan bahwa tidak sedikit masyarakat Wajo masih memegang teguh komitmen tradisional ini khususnya kegiatan mappasikarawa dalam suatu perkawinan.
             Kondisi faktual ini, melahirkan suatu permasalahan mendasar yakni mengapa masyarakat Wajo pada era globalisasi, industrialisiasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masih tetap kukuh berpegang pada pengetahuan lokal mappasikarawa dalam kegiatan mappabbotting (perkawinan).
             Mengacu pada masalah pokok tersebut di atas, diuraikan dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut: (1) bagaimanakah sistim masyarakat Wajo yang memiliki komitmen tradisional menerapkan pengetahuan lokal mappasikarawa dalam kegiatan mappabbotting (perkawinan); dan (2) faktor-faktor apakah yang mempengaruhi masyarakat Wajo masih tetap bertahan menggunakan pengetahuan lokal  mappasikarawa  dalam kegiatan mappabbotting (perkawinan).

Bagi masyarakat Wajo, kegiatan  mappasikarawa  ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kegiatan perkawinan. Orang yang melakukan kegiatan mappasikarawa ini adalah orang–orang panutan atau pilihan di dalam masyarakat. Orang pilihan dimaksud disebut  pappasikarawa.

Adapun proses kegiatan mappasikarawa ini diawali dengan mempelai laki-laki menjemput  isterinya. Dalam penjemputan tersebut biasanya pintu kamar tertutup rapat  dan dijaga oleh orang-orang yang memiliki power (kekuasaan) atau dihormati oleh pihak keluarga mempelai wanita. Pintu baru dapat dibuka jika pihak mempelai laki-laki telah menyerahkan sesuatu sehingga keluarga mempelai wanita setuju untuk membuka pintu kamar. Biasanya pihak mempelai laki-laki menyerahkan sejumlah materi (uang logam, gula-gula dan semacamnya ) yang dihamburkan di depan pintu. Kalau pihak penjaga pintu masih tarik menarik belum berkenan membuka pintu, lalu pihak keluarga mempelai laki-laki menambahkan dengan sejumlah uang kertas. Adapun maksud dari gaukeng ini adalah agar sang suami kelak tidak mudah menguasai dan memperdaya isterinya, karena diperolehnya dengan susah payah.

Setelah mempelai laki-laki masuk ke dalam kamar, selanjutnya didudukkan di samping mempelai wanita untuk mengikuti prosesi mappasikarawa. Terdapat banyak versi tentang bagian anggota tubuh mempelai wanita yang paling baik disentuh pertama kali oleh mempelai laki-laki, tergantung pada niat dari ”pappasikarawa”.  Kalau niatnya jelek, maka akan mengarahkan tangan mempelai laki-laki ke bagian tubuh mempelai wanita yang dianggap tidak baik atau tabu untuk disentuh.  Misalnya, mengarahkan tangan mempelai laki-laki ke bagian tengah leher paling bawah (edda), dan kepala dahi paling atas perbatasan kepala paling depan (buwu). Menurut kepercayaan sebahagian masyarakat bahwa bagian itu dilarang atau sedapat-dapatnya tidak disentuhkan ke arah bagian itu karena dapat menyebabkan salah satu diantaranya berumur pendek, apakah laki-laki atau perempuannya. Hal tersebut disebabkan karena kedua bagian anggota tubuh tersebut adalah berlubang sebagai simbol kuburan. Untuk itulah maka pihak kedua mempelai memilih orang-orang pintar yang benar-benar dapat dipercaya untuk melakukan ”mappasikarawa” ini, sebab sangat menentukan hidup matinya dan keberlanjutan kehidupan rumah tangga pasangan suami istri yang baru menikah tersebut.

Facebook Comments

No comment for Local Wisdom dalam Mappasikarawa Bugis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post to Local Wisdom dalam Mappasikarawa Bugis

Tech in Asia Jakarta 2015

Posted at November 27, 2015

Tech in Asia adalah Komunitas Online pelaku startup di Asia. Tahun ini kembali Tech in Asia (TIA) mengadakan event rutin yaitu International Conference di... Read More

olimpiade biologi

Tips Menghadapi Olimpiade Biologi SMA

Posted at January 16, 2014

Tips Menghadapi Olimpiade Biologi SMA – olimpiade adalah sebuah ajang perlombaan di mana para peserta beradu prestasi. Maka untuk kali ini saya kan coba... Read More

Soal CPNS Online Terbaru dan Lengkap

Posted at October 27, 2013

Pengangguran di Indonesia Makin hari makin bertambah dan Lowongan Pekerjaan makin hari makin berkurang akibatnya LOKER atau lowongan Pekerjaan menjadi Eksklusif dan bahkan sering... Read More

Contoh Kegunaan dan Prosedur Makalah

Contoh Kegunaan dan Prosedur Makalah

Posted at June 11, 2013

Makalah adalah karya ilmiah yang tak lepas dari kehidupan para pelajar dan pembelajar, makalah sering di berikan oleh guru di sekolah maupun dosen di... Read More

Contoh Rumusan Masalah dan Tujuan Makalah

Contoh Rumusan Masalah dan Tujuan Makalah

Posted at June 11, 2013

Sebelum Menyusun Makalah kita harus terlebih dahulu menentukan Rumusan Masalah yang akan di bahas dan teliti pada makalah itu dan juga merupakan rangkain dari... Read More