Kisah PelajarOpini Pelajar

Sebait Puisi Cinta Pelajar, Kenangan dalam Pelukan Diary

Sebait Puisi Cinta Pelajar, Kenangan dalam Pelukan Diary – Andi langsung membanting tubuhnya di atas kasur tuanya. Sudah hampir satu tahun lamanya dia tak menempati kamar kecilnya itu. Kesibukanya di pesantren untuk belajar, membuatnya harus meninggalkan rumah dan keluarga tercintanya. Sudah hampir 4 tahun dia belajar di pesanten, dan kepulangan ke rumah adalah momen-momen yang selalu di rindukan setiap tahun. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, ini adalah masa libur panjang. Karena setiap bulan ramandhan tiba, para santri menutup masa semester mereka dan pulang menemui keluarga masing-masing. Perjalanan yang cukup jauh membuat andi hanya bisa tertidur sambil memandang langit-lagit kamarnya. Fikiranya menerawang entah ke mana, sepertinya ada suatu hal atau mungkin seseorang yang sedang dia bayangkan. Sesekali dia tersenyum sendiri, tak tahu hal apa yang dia fikirkan.

diary-picTiba-tiba dia segera bangkit dari tempat tidurnya, dia membuka tumpukan buku-buku lamanya. Dia mengambil sebuah buku biru tua yang kusam dan berdebu, dia pungut dan di bersihkanya buku itu.
“Laila.. bagaimana kabar mu kini?”. Gumamnya lirih.
Laila adalah seorang gadis manis teman sekolahnya waktu di MTS dulu. Wanita yang ramah, lemah lembut, dan berbudi pekerti luhur. Andi menaruh rasa cinta pada gadis itu, tapi rasa malu selalu menahanya untuk berkata jujur akan perasaanya. Hingga dia hanya dapat menumpahkan setiap apa yang di rasakanya lewat bait-bait puisi cinta. Pelajar cerdas seperti andi memang tak kesulitan dalam setiap mata pelajaran, apa lagi jika hanya membuat sebuah pusi cinta. Itu bukan hal sulit baginya.. tapi hal tersulit yang di rasakan adalah bagaimana caranya menyerahkan puisi-puisi itu kepada wanita pujaanya. Pelan-pelan di bukanya lembar demi lembar buku diary itu. Buku diary yang penuh dengan coretan-coretan puisi cinta pelajar pecundang, yang hanya bisa sembunyai dalam rasa kagum tanpa berani berterus terang.

Wanitaku..
Kau wanita terindah yang selalu menghiasi mata dan hati ku
Kau wanita terbaik yang membuat hati ini tak lagi berkutik
Ku terdiam dalam cekat bibir ku jika di dekat mu
Ku terpaku di atas kedua kaki ku ketika di depan mu

Wanita ku..
Akulah pengagum rahasia mu
Akulah pecinta yang selalu bersembunyi dalam bayang-bayang rasa malu ku
Tak berani tunjukan diri karena merasa tak pantas bersanding dengan bidadari seperti engkau
Yang bahkan kau bisa sinari gelapnya dunia ku hanya dengan sekilas senyum mu
Jujur.. aku tak mampu..

Wanita ku..
Akau mecintai mu bukan karena raga indah mu
Bukan pula karena tubuh molek mu
Cintaku lebih dari sekedar bayang dunia yang merayu semu di pelupuk mata
Aku mencintai mu karena akhlak mu

Wanita ku..
Mungkin di waktu ini aku belum siap menunjukan diri di depan mu
Tapi kelak di waktu yang lain, aku kan berusaha jujur akan apa yang ku simpan ini
Aku tak akan meminta engkau hanya tuk jadi sebatas kekasih
Tapi.. aku kan meminta mu sebagai teman hidup mengarugi dunia yang membosan kan..

Wanita ku..
Hingga waktu itu tiba
Biarkan rasa ini hanya menjadi sebatas rahasia
Yang tahu hanya aku dan pencipta kita
Dan rapat tersimpan dalam pelukan diary..

Andi tersenyum mengingat di masa dia menulis puisi cinta itu. Dahulu.. semua seakan dapat berjalan selamanya.. rasa yang akan dapat dia miliki selamanya. Tapi seiring waktu.. itu hanya menjadi balutan-balutan kenangan. Hanya sebuah puisi cinta pelajar yang menghiasi masa-masa sekolah. Dan akan hilang seiring waktu menuju dewasa. Dan hanya menyisakan kenangan lucu..

Tags
Show More

Andi Agus

I am Blogger Nusantara

Related Articles

One Comment

Leave a Reply to ceceamalia Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker