Karya Ilmiah

Seoharto : Jendral Smiling

Soeharto Presiden kedua setelah kemerdekaan Indonesia, Soeharto (lahir 1921) adalah seeorang yang kuat anti-Komunis  menggambar Indonesia lebih dekat ke Barat dan memimpin selama masa perbaikan ekonomi di negara ini. Meskipun, masa jabatannya terganggu dengan publikasi negatif mengenai penindasan oposisi dan pelanggaran serius HAM, khususnya di Timor Timur, sebuah bekas koloni Portugis yang Indonesia secara paksa tempati mulai tahun 1975.

 

Soeharto lahir di Desa Kemusu dekat Yogyakarta, Jawa Tengah, pada tanggal 8 Juni 1921. Ayahnya adalah seorang petani, dan lingkungan rumah kecil Suharto cukup miskin. Hal ini juga tidak stabil, bergantian antara rumah yang terpisah dari ibunya dan ayahnya yang setelah bercerai ketika ia masih sangat muda, masing-masing sudah menikah lagi dan memiliki anak tambahan. Pada saat Soeharto juga tinggal dengan teman-teman keluarga dan kerabat di rumah yang merupakan khas Jawa.

 

soekarno-soeharto

 

Soeharto menyelesaikan sekolah militernya ,pemerintah kolonial Belanda di Indonesia itu buru-buru mencoba untuk membangun kekuatan pertahanan. Soeharto berada di antara sejumlah besar merekrut Indonesia untuk Pemerintah Hindia Belanda Angkatan Darat. Dengan Maret 1942 Soeharto telah menghabiskan setengah tahun dalam pelatihan dan tugas aktif di bawah komandan Belanda dan telah dipromosikan menjadi sersan, tapi sesudah Belanda, setelah sudah diduduki oleh Jerman di Eropa, menyerahkan koloni ke Jepang kemudian pada tahun 1942 setelah itu hanya resistensi minimal, Soeharto kembali ke desanya.

 

Seoharto Seorang Tentara yang Professional
Tak lama kemudian Soeharto sukarela untuk ikut dalam organisasi kepolisian Jepang di Jogjakarta. Dia kemudian bergabung dengan PETA, Jepang yang disponsori Relawan Tentara Pembela Tanah Air, dan, setelah menerima pelatihan militer tambahan formal di Bogor, menjadi komandan kompi. Ketika Jepang menyerah dan Belanda berusaha untuk membangun kembali kontrol atas Hindia Belanda, unit PETA dan petugas memberikan kerangka kerja untuk Keamanan Rakyat Korps yang cikal bakal Tentara Nasional Indonesia. Di antara para perwira Suharto memperoleh reputasi untuk kepemimpinan mampu dan strategi suara dalam menentang tidak hanya kekuatan militer Belanda tetapi juga faksi-termasuk bahasa Indonesia berbagai Komunis dan Islam ekstremis-yang menantang kepemimpinan politik Republik embrio Indonesia.

 

Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada bulan Agustus 1945, dan Belanda akhirnya meninggalkan usaha mereka untuk mempertahankan kedaulatan empat tahun kemudian. Negara baru secara geografis begitu luas sekali, beragam budaya, dan ekonomi kurang beruntung bahwa pemerintah di bawah pimpinan pemimpin nasionalis Soekarno kuat mengalami kesulitan mempertahankan norma-norma konstitusional dan prosedur. Tentara pasti datang untuk dilihat sebagai aktor politik penting, lebih-lebih sebagai Sukarno mengumumkan darurat militer di tahun 1957 dan perjuangan untuk suksesi dipercepat pada awal tahun 1960.

 

Selama periode ini Soeharto maju melalui jajaran Tentara Nasional Indonesia. Sebagai letnan kolonel ia berpartisipasi pada tahun 1950 dalam sebuah ekspedisi yang berhasil dalam menekan pemberontakan baru jadi di Sulawesi Selatan. Sebagian besar tugas jarang perintah-Nya berada di Jawa Tengah, agak dihapus dari pusat lebih dinamis politik nasional dan administrasi di ibukota, Jakarta. Pada tahun 1957 Soeharto dipromosikan menjadi pangkat kolonel; pada tahun 1960 ia menjadi brigadir jenderal, dan pada tahun 1963, sebagai mayor jenderal, dia menjadi komandan Komando Strategis Angkatan Darat.

 

Menjadi Pemimpin dalam “Orde Baru”
Meskipun ia tidak  terlihat di kalangan elite militer, Suharto telah mengembangkan asosiasi dekat seluruh tentara dan terutama mendukung dan melindungi stafnya. Selain itu, ia menanamkan psikap antang menyerah anti-Komunisme bersama dengan perusahaan ekonomi kuat oleh unit-unit tentara di bawah komandonya. Kualitas ini terutama karakteristik dari tentara Indonesia di tahun-tahun menjelang 1965, dan mereka menjadi semakin terkait dengan negara di bawah presiden Suharto.

 

Sebagian karena lonjakan pendapatan minyak selama tahun 1970, situasi ekonomi Indonesia meningkat secara substansial selama presiden Suharto. Mulai tahun 1968, ia diangkat kembali menjadi presiden setiap lima tahun dengan hampir tidak ada oposisi. Namun masa jabatannya tidak bebas kontroversi. Dugaan pilih kasih dan keserakahan diarahkan di istana dan, di antara sanak keluarga lainnya, terutama yang terlibat istri aristokrat Jawa itu, Tien Soeharto. Pada 1980-an korupsi pemerintah dan represi dikombinasikan dengan tren internasional untuk bahan bakar aktivitas politik Islam. Pada tahun 1990, Soeharto menciptakan Asosiasi Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) untuk mengakomodasi kekhawatiran atas kekuatan politik berpotensi kuat dari kelompok-kelompok Muslim. Presiden Suharto dan pendukung militernya mampu mengandung dan semua saingan politik lainnya, dan ia mulai memberikan perhatian lebih pada persiapan sebuah rezim pengganti.

 

Pada 1990-an, korupsi lanjutan dan penindasan terhadap oposisi disajikan suatu hambatan pertumbuhan terhadap pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Meskipun demikian, Soeharto terpilih untuk keenam masa jabatannya lima tahun pada tahun 1993.
Beberapa pidato Suharto dan proklamasi yang dicetak ulang di Fokus pada Indonesia, sebuah publikasi triwulanan Kedutaan Besar Indonesia di Washington, DC Sebuah biografi panjang dan semi-resmi lengkap tersedia: OG Roeder, The Smiling General (1969). “Orde Baru” adalah subyek yang sangat mudah dibaca Hamish McDonald Soeharto Indonesia (1980), dan David Jenkins lebih berfokus secara sempit pada peran militer dalam Suharto dan Jenderal-Nya: Politik Militer Indonesia, 1975-1983 (1984). Lihat juga, Schwarz, Adam, A Nation of Waiting: Indonesia pada 1990-an (Westview, 1994).

 

Tapi Lebih dari Opini Yang Berkembang Mengenai Sosok Jendral Soeharto,Ia Tetaplah Seorang Ayah yang bersahaja,sabar tapi untuk bagi lawan politiknya ia bagaikan orang yang otoriter dan diktator.

 

Sebelum mengumummkan pengunduran dirinya ia mengumpulkan anak-anaknya dan Kalimat terakhir Soeharto Sebelum Mengundurkan Diri sebagai Presiden ke 2 “sejarah akan membuktikan apa yang bapak dan ibumu buat untuk negara ini

Tags
Show More

Andi Agus

I am Blogger Nusantara

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker