Karya Ilmiah

Bissu : Penjaga Tradisi Ritual Bugis Kuno

Siapakah bissu? Bissu adalah pendeta agama Bugis kuno pra-Islam. Bissu dalam kebudayaan Bugis adalah manusia hermafrodit yang mana secara anatomis adalah laki-laki namun dalam berbusana merupakan kombinasi antara karakteristik laki-laki dan perempuan. Seorang bissu dapat membawa Badik (pisau khas Bugis) yang milik laki-laki, namun mengenakan bunga di kepalanya yang bermodel rambut perempuan. Dalam kebudayaan Bugis, dikenal 4 gender plus gender kelima yaitu ‘para-gender’. Selain laki-laki-pria (oroane) dan perempuan-wanita (makunrai) dikenal pula calalai, secara biologis perempuan namun berperan dan berfungsi sebagai laki-laki. Lalu ada calabai, secara biologis laki-laki namun berperan dan berfungsi sebagai perempuan. Gender kelima yaitu bissu, yang telah dijelaskan sebelumnya (Graham, 2002)

Bissu adalah Pendeta Bugis pada masa pra Islam. Sebelum Islam datang ke Sulawesi Selatan, masyarakat Bugis Makassar itu sudah mengenal suatu kepercayaan animisme yang disebut Kepercayaan terhadap Dewata SeuwaE. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa Bissu itu ‘pendeta’ masa lampau yang hidup di masa kini.

Puang Matowa Saidi saat Mangiri

Tidak hanya kombinasi dalam hal gender, bissu juga perpaduan dari elemen jiwa. Diyakini bahwa bissu memiliki sebagian jiwa manusia dan juga sebagian jiwa dewa yang mampu mengalami dua alam tersebut. Di Sulawesi Selatan, peran bissu tergolong istimewa karena merupakan penghubung antara manusia dan dewa melalui upacara ritual tradisionalnya dengan menggunakan bahasa dewa (basa Torilangi). Karenanya, bissu juga berperan sebagai penjaga tradisi tutur lisan sastra Bugis kuno sure’ La Galigo. (http://noertika.wordpress.com)

Di masa lalu berdasarkan sastra klasik Bugis epos La Galigo, sejak zaman Sawerigading, peran Bissu sangat sentral, bahkan dikatakan sebagai mahluk suci yang memberi stimulus ‘perahu cinta’ bagi Sawerigading dalam upayanya mencari pasangan jiwanya; We Cudai. Di tengah kegundahan Sawerigading yang walau sakti mandraguna tapi tak mampu menebang satu pohon pun untuk membuat kapal raksasa Wellerrengge, Bissu We Sawwammegga tampil dengan kekuatan sucinya yang diperoleh karena ambivalensinya; lelaki sekaligus perempuan, manusia sekaligus Dewa (Graham, 2002).

Puang Matoa Saidi adalah pemimpin komunitas bissu di Sulawesi Selatan. Ia dituakan sebagai Puang Matoa oleh komunitas bissu di Pangkep, Soppeng, Wajo dan Bone

“Manusia Bissu”. “Bissu itu waria, Mbak”,Meskipun ada juga Bissu perempuan—mereka yang menjadi Bissu setelah tidak subur lagi (menopause)—namun itu tidak dominan, sudah langka. Bissu umumnya berangkat dari status waria yang mendapatkan semacam ‘panggilan spiritual’ untuk menjalani takdirnya sebagai Bissu. Pemimpin Bissu digelari ‘Puang Matoa’, sedang wakilnya disebut ‘Puang Lolo’. Kalau melihat sepintas Bissu, mungkin kita akan tertipu karena mereka rata – rata berwajah keras dan berjanggut, padahal intinya mereka gemulai.

Yang membedakan Bissu dengan waria pada umumnya dapat kita saksikan saat mereka melakukan seni tari maggiri. Para Bissu itu menusukkan keris ke beberapa anggota anggota tubuhnya seperti tangan, pinggang, perut, atau leher, sambil menari diiringi musik palappasa. Mereka tidak menpan senjata tajam. Mereka adalah waria sakti dari peradaban bugis masa lampau. Pada masa keemasan kerajaan di Tanah Bugis, tidak satupun upacara atau sidang yang lengkap tanpa keterlibatan mereka. Bissu adalah pemelihara benda pusaka kebesaran kerajaan dan keagamaan pada masa itu.

 

Show More

Andi Agus

I am Blogger Nusantara

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker