Karya Ilmiah

Bissu sebagai Gender Kelima?

Sebagai komunitas langka dan unik, Bissu tidak cukup dipahami dengan berhadapan langsung dengan Bissu itu sendiri.Seorang Bissu cenderung untuk menutup informasi terkait libido dan perilaku seksualnya. Bahkan beberapa diantaranya menganggap bahwa hal tersebut adalah hal yang tabu untuk dibicarakan, apalagi kepada seseorang yang baru dikenalnya. Itulah sebabnya tesis tentang gender kelima, “Bissu”, sukar untuk dipahami dan diterima dengan logika. Meski begitu, hampir semua pemerhati budaya, jurnalis dan peneliti mengamini pendapat bahwa dalam masyarakat Bugis dikenal lima gender, yaitu : Urane (laki – laki), makkunrai (perempuan), calabai (laki – laki yang keperempuanan, waria), calalai (perempuan yang kelaki – lakian), dan Bissu (tak bergender atau tidak jelas gendernya).

 

BANYAK jurnalis dan penulis yang  memiliki kepedulian terhadap komunitas “waria sakti” Bissu dari Tanah Bugis. Tulisan yang lahir tentang Bissu begitu beragam, ada yang menulis penguasaan Bissu terhadap epos La Galigo dan keterlibatannya dalam Teater Kontemporer La Galigo, kecerdasannya berbahasa bugis kuno dan membaca lontaraq, seni tari “maggiri”nya yang membuat seorang Bissu tidak mempan senjata tajam, kemampuannya meramal dan mengobati, kontroversi mengenai gendernya, perilaku sosial dan ketaatannya dalam menjalankan adat (Pangngaderreng).

 

 

Salah seorang peneliti yang mempopulerkan Bissu sebagai “gender kelima” adalah Sharyn Graham, peneliti dari University of Western Australia.  Bissu yang umumnya berangkat dari kondisi waria (calabai) ternyata tak bisa sepenuhnya lepas dari kondisi kewariaannya, begitu pula pergaulannya. Itulah sebabnya dalam beberapa tulisan soal gender kelima ini, saya menganggap ada “disconnect” soal tesis tentang gender kelima ini. Informasi tentang latar belakang sosial, sikap dan perilaku Bissu dapat diketahui dari kawan – kawan sepergaulannya dari komunitas waria (calabai). Bissu tidak hanya bergaul dengan sesamanya Bissu, tetapi diluar tradisi kebissuannya malahan lebih banyak bergaul dengan waria.

 

 

Bagaimanapun, Bissu adalah tetap manusia biasa. Secara kodrati, manusia “ditakdirkan” dilahirkan hanya dalam dua gender, laki – laki (bugis : urane) atau perempuan (bugis : makkunrai). Apakah ia nantinya menjadi calabai (sebutan bugis bagi waria, laki – laki yang keperempuanan) atau calalai (sebutan bugis bagi perempuan yang kelaki-lakian) itu lebih disebabkan karena pengaruh faktor lingkungan yang membentuknya. Ini tentunya memerlukan pembahasan tersendiri, namun yang jelas tidak ada seorangpun anak manusia yang terlahir sebagai calabai dan calalai.

 

Kondisi Bissu bukanlah suatu kondisi yang permanen, ia merupakan pilihan hidup bagi orang yang merasa “panggilan hidupnya” menjadi Bissu. Kebissuannya bisa terkotori ketika banyak hal yang tidak sepantasnya ia lakukan kemudian ia perbuat dengan sadar. Pada kondisi seperti itulah, Bissu seharusnya secara sadar harus mengundurkan diri sebagai Bissu karena telah menodai tradisi kebissuan yang seharusnya dijaganya, namun banyak hal saya dapati kenyataan seseorang menjadi Bissu ketika ia dalam kondisi kejiwaan dan spiritualitas Bissu menyatu dalam dirinya. Pada saat dalam kondisi demikian, Bissu bukanlah waria biasa, tetapi “waria sakti” yang lahir dari peradaban Bugis kuno. Pada saat tidak demikian, ia hanya waria biasa yang bisa tergoda dan digoda sebagaimana waria pada umumnya. (sosbud.kompasiana.com).

Intinya, Bissu tidak “sesuci” seperti yang selama ini banyak ditulispeneliti. Informasi tentang pergulatan psikologis dan perilaku seksualitas menjadi tertutup karena umumnya peneliti hanya fokus pada Bissu itu sendiri, kesetiaannya berbudaya sebagaimana konsep “atturiolong” (tata cara leluhur), seni tari maggiri-nya, kemampuannya berbahasa bugis kuno dan membaca lontaraq, pusaka bissu, dan lain sebagainya. Meski ketahanan masing – masing Bissu berbeda – beda dalam menghadapi godaan perilaku seks menyimpang, namun paling tidak tesis bahwa Bissu sebagai “manusia suci” yang terhindarkan dari perilaku seks menyimpang harus dimentahkan karena hal tersebut tidak berlaku umum dan permanen.

Show More

Andi Agus

I am Blogger Nusantara

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker